Sumberdaya Manusia Pendidikan

 

 

LATAR BELAKANG PENYALINAN

Teringat pada saat dialog singkat pada saat studi literatur berkaitan dengan Sistem Pendidikan Berbasis Produksi tahun 1999, selalu terfikirkan oleh saya makna yang tersirat dari dialog tersebut:

  1. Pendidikan itu mahal dan akan berbanding lurus dengan biaya yang dibutuhkan. Namun tidak dapat diartikan bahwa jika ‘sumbangan dana keci’ maka kualitas pendidikan pun akan berkurang. Beberapa terobosan inovatif akan diperlukan dan dapat diartikan sebagai sebuah tantangan.
  2. Studi banding mutlak dilakukan terhadap sistem pendidikan jalur profesional di negara-negara yang telah mengimplementasikannya. Namun dengan keterbatasan dana yang ada dan berkembang pesatnya teknologi informasi, maka bentuk ‘bench marking’ dapat disederhanakan tanpa harus melakukan ‘lawatan=melancong’ ke negara-negara yang lebih dahulu menerapkannya. Karena di negara kitapun, telah banyak perguruan-perguruan tinggi besar yang telah melakukannya. Sehingga penyederhanaan kata ‘bench marking’ dapat disederhanakan.
  3. Kita telah memahami bahwa terjadi pengelompokkan perguruan tinggi berdasarkan keunggulannya, kekhususannya, ketenarannya. Kondisi tersebut dapat diartikan bahwa mereka-mereka lah yang akan membina beberapa perguruan tinggi yang berada di bawahnya. Tak bisa kita berpendapat bahwa kita akan melampaui mereka, namun ‘kerjasama, keharmonisan, saling silih asuh’, menjadi kata kunci untuk memajukan pendidikan Global yang ada di Indonesia secara bersama (karena skematik pendidikan tinggi melalui renstra telah ditetapkan). Bak seperti lakon pewayangan, mari kita bermain peran sesuai dengan peranan kita masing-masing.
  4. Kita harus menyadari bahwa pemerintah kita ‘amat sangat terbatas sekali’ dalam hal pendanaan perguruan tinggi yang ada (walaupun di UUD 45 merupakan hak anak bangsa untuk mendapatkan pendidikan yang merata). Namun hal tersebut bukanlah kartu mati yang kita berpasrah kepadanya, karena kita yakin bahwa anugrah fikiran akan membawa kita untuk menerobos dimensi ruang dan waktu.
  5. Seringkali (bahkan sudah menjadi kebiasaan yang salah kaprah) bahwa penjaringan tenaga kerja seringkali dikaitkan dengan Indeks Prestasi Lulusan (angka-angka yang dianggap menunjukkan prestasi seseorang). Namun pernahkah ‘mereka / pelaku industri’ berfikir bahwa maju atau tidaknya pendidikan anak bangsa merupakan kewajiban mereka pula untuk berkontribusi di dalamnya. Akan terasa aneh jika kita menginginkan sesuatu yang lebih baik, namun disisi lainnya tidak ada upaya ataupun kontribusi nyata yang kita lakukan ?
  6. Di sisi lainnya, pelaku/penyelenggara pendidikan tinggi pun tidak perlu arogan dengan menyatakan bahwa saya bisa berjalan tanpa bantuan pengguna lulusan = dunia industri. Karena kita tahu bahwa dengan keterbatasan dana yang ada di perguruan tinggi, maka akan menyebabkan kesulitan bagi institusi pendidikan tinggi untuk mengejar ketertinggalan teknologi yang cenderung berkembang pesat. Melalui industrilah kita dapat meneropong ke arah mana perkembangan teknologi aplikatif di masa yang akan datang. Sehingga kolaborasi antara penyelenggara pendidikan dan pengguna lulusan mutlak dilakukan.
  7. Munculnya suatu teorema ataupun inovasi, seringkali dilatarbelakangi oleh asumsi  ‘KONDISI IDEAL’. Hal tersbut menunjukkan bahwa kondisi terebut ‘tak lekang oleh masa ataupun waktu’. Pendekatan-pendekatan sesuai zamanlah yang akan membedakan orientasi pencapaiannya. Termasuk di dalamnya salah satu inovasi ‘Production Based Education’. Yang menjadi salah satu alternatif ‘efektivitas dan efisiensi’ pengelolaan dana yang ada di perguruan tinggi. Namun, hal tersebut tidak dapat dilakukan secara ‘parsial’, dan harus dilakukan secara ‘terintegrasi’ karena pelaku-pelakunya dibatasi oleh dimensi waktu dan ruang.

Pendidikan berbasis masyarakat

 

Manusia lahir di mukia bumi sebagai pribadi yang bersih atau dalam konteks Islam disebut sebagai Fitrah. Bersih atu suci dalam konteks fitrah ini menyentuh aspek jasmani dan rohani, sebagaimana kita tahu bahwa substansi manusia itu terdiri dari jasmani dan rohani. Mengambil makna dari konsep fitrah maka seharusnya manusia tidak ada yang berperangai buruk dan jahat. Manusia seharusnya berperangai baik, penuh sikap dan tindakan yang selalu bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannya. Namun kenyataan yang kita lihat tidak selalu begitu. Manusia telah melakoni berbagai peran di muka dunia ini, dari seorang pencuri, koruptor, diktator dan sebagainya. Hal inilah yang kemudian muncul pertanyaan siapakah yang membentuk karakter manusia.

Kalau kita menilik pada sebuah Hadits yang mengatakan bahwa setiap manusia yang dilahirkan di muka bumi ini dalam keadaan fitrah sampai kemudian orangtuanyalah yang akan menjadikan anak itu seperti apa di kemudian hari, maka kita akan mendapatkan jawaban. Bahwa eksistensi manusia sangat dipengaruhi oleh pendidikan orangtua (baca: masyarakat) . Manusia sebagai diri pribadi dan sekaligus makhluk sosial tentu akan selalu bergumul dan bergaul dengan lngkungan dan masyarakatnya, proses inilah yang akan mengantarkan manusia pada internalisasi nilai.

Oleh karena itu kesadaran individu akan pentingnya pendidikan berbasis mayarakat perlu ditumbuhkan. Perbuatan yang tidak baik seperti melanggar hukum, melanggar norma sosial ataupun melanggar norma agama tidak hanya sekedar berimplikasi pada hukuman maupun dosa si pelaku, tapi lebih dari itu segala perbuatan manusia dalam konteks masyarakat mempunyai korelasi yang signifikan terhadap masyarakat itu sendiri. Individu sebagai bagian dari masyarakat selayaknya mempunyai kesadaran bahwa kehidupannya tidak sekedar untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk masyarakatnya. Dengan pemahaman ini maka akan timbul perhatian dan partisipasi masing-masing individu untuk berbuat sesuatu yang lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakatnya.

Konsep Manusia Dalam Pendidikan

Manusia disebut “Homo Sapiens”. Artinya, makhluk yang mempunyai kemampuan untuk berilmu pengetahuan. Salah satu insting manusia adalah selalu cenderung ingin mengetahui segala sesuatu disekelilingnya, yang belum diketahuinya. Berawal dari rasa ingin tahu maka timbulah ilmu pengetahuan.

Dalam hidupnya manusia digerakan sebagian oleh kebutuhan untuk mencapai sesuatu, dan sebagian lagi oleh tanggung jawab sosial dalam masyarakat. Manusia bukan hanya mempunyai kemampuan-kemampuan, tetapi juga mempunyai keterbatasan-keterbatasan, dan juga tidak hanya mempunyai sifat-sifat yang baik, namun juga mempunyai sifat-sifat yang kurang baik.

Menurut pandangan pancasila, manusia mempunyai keinginan untuk mempertahankan hidup dan menjaga kehidupan lebih baik. Ini merupakan naluri yang paling kuat dalam diri manusia. Pancasila sebagai falsafah hidup manusia Indonesia, memberikan pedoman bahwa kehidupan manusia didasarkan atas keselarasan, keserasian, dan keseimbangan, baik dalam hidup manusia sebagai individu, hubungan manusia dengan masyarakat, hubungan manusia dengan alam, hubungan bangsa dengan bangsa, dan hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun manusia dalam mengejar kemajuan lahiriah dan kebahagiaan rohaniah.

Ajaran Islam memandang manusia sebagai tubuh, akal dan hati nurani. Potensi dasar manusia yang dikembangkan itu, tidak lain adalah bertuhan dan cenderung kepada kebaikan bersih dari dosa, berilmu pengetahuan serta bebas memilih dan berkreasi. kemampuan kreatif manusia pun berkembang secara bertahap sesuai ukuran tingkat kekuatan dan kelemahan unsur penunjang kreativitas seperti pendengaran, penglihatan serta pikiran. Sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi, manusia dituntut mampu mengelola alam dengan beragam ilmu pengetahuan.

Tampaklah bahwa manusia itu sangat membutuhkan pendidikan. Karena melalui pendidikan manusia dapat mempunyai kemampuan-kemampuan mengatur dan mengontrol serta menentukan dirinya sendiri. Melalui pendidikan pula perkembangan kepribadian manusia dapat diarahkan kepada yang lebih baik. Dan melalui pendidikan kemampuan tingkah laku manusia dapat didekati dan dianalisis secara murni.

Gambar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s